Thursday, 27 November 2025

Sosok Sunyi yang Diam-Diam Menopang Langit Hidup Kita

 

Ayah: Sosok Sunyi yang Diam-Diam Menopang Langit Hidup Kita

Sering kali dunia membicarakan besarnya peran seorang ibu—dan itu benar adanya. Ibu adalah pelukan, doa, dan kasih sayang tanpa batas. Namun kita sering lupa bahwa di balik kelembutan ibu, ada sosok lain yang berdiri teguh, bekerja dalam diam, dan memikirkan masa depan kita jauh melampaui apa yang kita bayangkan.

Ayah.
Sosok yang jarang disebut, tetapi tanpa kehadirannya, hidup kita bisa runtuh dalam sekejap.


Doa Ayah: Sunyi, Namun Lebih Dekat Kepada Langit

Banyak orang tidak tahu bahwa doa seorang ayah untuk kebaikan anaknya justru lebih dekat dengan Tuhan.
Ayah jarang menangis, jarang berbicara lembut, jarang memeluk, tetapi hatinya penuh dengan doa yang tidak pernah ia suarakan.

Doa seorang ayah tidak lantang seperti doa ibu,
tetapi lebih dalam,
lebih jujur,
lebih berat.

Karena doa itu lahir dari beban yang ia pikul sendirian.


Kita Berbakti kepada Ibu… Tetapi Jangan Lupa Siapa yang Berkorban Tanpa Suara

Benar, kita wajib berbakti kepada ibu. Durhaka kepada ibu adalah awal dari kesialan hidup.

Tetapi sering kali, kita terlalu terfokus pada ibu hingga lupa bahwa ayah-lah yang diam-diam mengantarkan banyak doa kesuksesan kita.

Kita lupa:

  • Ayah yang memikirkan sekolah kita.

  • Ayah yang menghitung sisa uang belanja agar kita tetap bisa kuliah.

  • Ayah yang pulang dengan pakaian penuh keringat hanya supaya kita punya kehidupan yang lebih baik dari dirinya.

  • Ayah yang memilih diam meski hatinya lelah, agar kita tetap merasa dunia baik-baik saja.

Ayah tidak banyak bicara,
tetapi dialah yang paling keras berpikir.

Ayah jarang menasihati dengan kata-kata,
tetapi ia merancang masa depan kita dengan tindakannya.


Di Balik Arahan Ibu, Ada Skenario Besar dari Seorang Ayah

Tahukah kita?
Banyak arahan dari ibu sebenarnya lahir dari dorongan ayah.
Ibu berbicara, tetapi ayah yang merancang.
Ibu memeluk, tetapi ayah yang menyiapkan jalannya.
Ibu mengantar, tetapi ayah yang mendorong dari belakang.

Ayah-lah penyusun skenario besar kehidupan kita.
Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi ada dalam setiap langkah.

Ia berani mengorbankan harga dirinya sebagai tulang punggung keluarga.
Ia mengeluarkan tenaga, pikiran, dan malam-malam panjang yang tidak pernah kita lihat.
Ia menyembunyikan lelahnya agar kita tidak ikut merasakan beratnya hidup.

Wajahnya mungkin mulai keriput,
tapi setiap garis itu adalah bukti bahwa ia pernah berperang untuk masa depan kita.


Jika Ayahmu Masih Ada, Peluk Dia Selagi Bisa

Jika kamu masih memiliki ayah,
bersyukurlah.

Ia mungkin tidak memelukmu sesering ibu,
tidak memuji sesering teman,
tidak bertanya sesering pasangan,

tetapi dialah garda terdepan yang selalu melindungi kita, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Kadang kita mengira ayah terlalu kaku.
Padahal ia hanya menahan diri agar kita kuat.
Kadang kita merasa ayah terlalu diam.
Padahal ia ingin kita belajar membaca dunia.

Ayah tidak meminta banyak,
bahkan mungkin tidak meminta apa-apa.

Tetapi satu kalimat “Ayah, terima kasih,”
mampu menghapus beban bertahun-tahun yang ia simpan dalam dadanya.


Jika Ayah Telah Tiada, Doakan Ia Setiap Malam

Jika ayahmu sudah meninggalkan dunia,
jangan biarkan ia pergi sendirian tanpa doa dari anaknya.

Hadiah terbesar untuknya bukan air mata,
melainkan doa terbaik agar ia tenang di sisi Tuhan.

Sebab seluruh hidupnya,
ayah menghabiskan waktu untuk memastikan kita hidup dengan baik.
Maka ketika ia sudah tiada,
gantilah perjuangan itu dengan doa yang tulus dari hati.


Hargai Ayah Selagi Ia Masih Menunggu Kita Pulang

Ayah adalah pahlawan yang tidak mendapat tepuk tangan.
Ia adalah pohon besar yang meneduhkan,
meski akarnya terpendam jauh dalam tanah dan tidak ada yang melihatnya.

Ayah adalah alasan mengapa kita bisa berdiri hari ini,
dan mungkin alasan mengapa kita bisa terbang lebih tinggi esok hari.

Hargai ayahmu.
Doakan ayahmu.
Peluk ia selagi masih ada,
dan kenang ia dengan doa ketika sudah tiada.

Karena tidak ada perjuangan yang lebih sunyi,
lebih tulus,
dan lebih berat,

selain perjuangan seorang ayah yang tidak ingin anaknya tahu bahwa ia sedang berjuang.


Karier Tidak Ditentukan Oleh Siapa yang Disenangkan, tetapi Oleh Apa yang Dikerjakan

 

Bekerja dengan Sayap Sendiri: Tentang Keyakinan, Kompetensi, dan Harga Diri dalam Dunia Kerja

Seperti burung yang tidak gentar berdiri di atas ranting rapuh karena percaya pada sayapnya, demikian pula seharusnya kita bekerja. Yakin pada kemampuan sendiri, tidak bergantung pada pujian, dan tidak menunggu dukungan yang belum tentu hadir.

Dalam dunia kerja, kekuatan sejati tidak datang dari siapa yang kita dekati atau seberapa dekat kita dengan lingkaran tertentu. Kekuatan itu lahir dari kompetensi yang kita asah setiap hari.


Kompetensi: Pondasi Karier yang Tak Bisa Digoyang

Karier yang kokoh bukan dibangun oleh kedekatan dengan atasan,
bukan oleh hubungan personal yang rapuh,
melainkan oleh kualitas diri.

Saat kemampuan dan integritas menjadi fondasi, kita memiliki sandaran yang tidak bisa dicabut siapa pun.

Dalam setiap ruang profesional, kemampuan diri adalah sekutu terbaik.
Ia tidak bisa dijatuhkan oleh fitnah,
tidak bisa dicuri,
dan tidak bisa ditukar dengan kepura-puraan.

Justru ketika integritas dan kompetensi menjadi sayap, kita akan terbang lebih tinggi dari mereka yang hanya mengandalkan kedekatan dengan kekuasaan.


Nilai Diri Tidak Ditentukan oleh Jabatan Orang Lain

Mereka yang bekerja dengan keyakinan pada kemampuan diri tidak pernah takut pada jabatan siapa pun.
Karena mereka tahu:

  • nilai diri tidak diukur dari siapa yang disenangkan,

  • melainkan dari kualitas pekerjaan yang dihasilkan.

Keberhasilan sejati tumbuh dari ketekunan, konsistensi, dan profesionalisme.
Ia tidak lahir dari rayuan, pujian palsu, atau strategi menjilat yang hanya bertahan sementara.

Pada akhirnya, hasil pekerjaanlah yang berbicara.
Integritas adalah cahaya yang sulit dipadamkan.
Dan kompetensi adalah sayap yang tidak pernah patah,
bahkan ketika banyak orang memilih jalan pintas.


Penutup: Terbang Tinggi dengan Ketulusan dan Kapasitas

Bekerja dengan hati jujur dan kemampuan yang terus diasah adalah cara terbaik untuk bertahan di dunia kerja yang penuh permainan.
Kita tidak perlu merendahkan diri untuk disukai, dan tidak perlu berpura-pura untuk diterima.

Percaya pada diri sendiri.
Asah kompetensi.
Rawat integritas.

Karena pada akhirnya, mereka yang memiliki sayap kuat akan selalu terbang lebih tinggi daripada mereka yang hanya bergantung pada ranting rapuh.


Ketika Ibu Pergi

 

Ketika Ibu Pergi: Duka Paling Sunyi yang Tak Pernah Benar-­Benar Sembuh

Kematian adalah kemestian. Setiap jiwa yang bernyawa pasti akan tiba pada ajalnya — kita, orang-orang yang kita cintai, semuanya akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Hidup bukan tentang menunggu kapan waktu itu datang, tetapi tentang bekal apa yang kita bawa pulang kelak.

Namun dari seluruh kisah tentang kepergian, kematian seorang ibu adalah luka yang paling sunyi, kehilangan yang paling dalam, dan duka yang tak bisa benar-benar kita pahami sampai saat itu tiba.


Ketika Doa Itu Terputus

Saat seorang ibu pergi, terputuslah doa yang selama ini naik ke langit tanpa jeda. Doa yang tak pernah meminta imbalan apa pun, doa yang bahkan sering kita lupakan, padahal menjadi alasan mengapa langkah kita begitu ringan selama ini.

Pintu surga yang dulu terasa dekat, mendadak seperti menjauh dalam sekejap.


Kasih Sayang yang Tak Lagi Bisa Kita Peluk

Kepergian ibu bukan sekadar kehilangan seseorang. Itu adalah kehilangan:

  • rumah,

  • pelukan tempat kita kembali,

  • doa yang menjadi tameng hidup,

  • hati yang diam-diam menjaga kita dari segala arah.

Kasih sayangnya yang tak pernah bertepi lenyap dari pelukan kita. Hilang tempat bersandar ketika dunia terasa begitu berat. Padam cahaya yang selalu menuntun kita pulang — bahkan ketika kita pulang dalam keadaan paling hancur.

Kepergian ibu adalah kehilangan yang membuat kita belajar, bahwa ternyata ada rasa sakit yang tak bisa diceritakan, hanya bisa dibawa, pelan-pelan diterima, dan seumur hidup dirawat.


Kehilangan yang Mengubah Segalanya

Kehilangan ibu bukan hanya kehilangan sosok perempuan yang melahirkan kita. Itu adalah kehilangan bagian diri kita sendiri — bagian paling lembut, paling tulus, paling jujur.

Kita kehilangan:

  • rumah tempat hati berteduh,

  • doa yang selama ini menjaga langkah,

  • pelukan yang mampu meredam badai,

  • cahaya yang menuntun arah meski kita tersesat jauh.

Tak ada kehilangan lain yang serupa. Tak ada cinta lain yang menggantikannya.


Namun Cinta Itu Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Walau ia telah pergi, cintanya tetap tinggal. Menyatu dalam langkah kita, dalam sifat-sifat yang ia ajarkan, dalam kebaikan yang diam-diam ia tanamkan dalam diri kita.

Kita mungkin kehilangan raganya,
tapi cinta ibu tidak pernah mati — ia hanya berubah bentuk.
Menjadi kekuatan.
Menjadi pengingat.
Menjadi alasan untuk terus hidup dengan lebih baik.

Pada akhirnya, kehilangan ibu mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan lebih tulus, lebih kuat, dan lebih penuh syukur. Sebab suatu hari nanti, kita pun akan pulang. Seperti ia sudah pulang lebih dulu.


Friday, 14 November 2025

Menjadi Kuat Tanpa Harus Mengalahkan Siapa Pun

Hidup Tidak Sesederhana Drama: Tentang Proses, Ketulusan, dan Waktu yang Selalu Jujur

Hidup ini tidak sesimple drama China, di mana tokoh utama yang diremehkan tiba-tiba muncul sebagai CEO Laguna dari keluarga Wira setelah satu adegan penghinaan. Dunia nyata tidak bekerja seperti itu.

Dalam perjalanan hidup yang sebenarnya, bertahun-tahun kita mungkin dicibir, diremehkan, dan dikomentari. Namun tetap saja kita belum mampu menunjukkan apa-apa — bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita sedang berproses, dan memang belum menjadi siapa-siapa.

Dan itu tidak apa-apa.


Fokus Pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Seringkali kita menghabiskan energi pada hal yang berada di luar kendali: komentar orang lain, penilaian yang tidak adil, cibiran yang tidak berhenti.

Padahal sesuatu yang berada di luar kendali bukan wilayah yang perlu kita kendalikan.

Kita tidak dilahirkan untuk membungkam setiap mulut,
tetapi untuk menguasai diri sendiri.

Karena itu, arahkan perhatian pada hal-hal yang dapat kita kendalikan:

  • tindakan kita,

  • sikap kita,

  • konsistensi kita untuk terus berkembang.

Teruslah melakukan yang terbaik, perbaiki yang kurang, dan tumbuh lebih kuat setiap hari.

Biarkan suara dari luar berlalu seperti angin di padang pasir; kafilah tetap berjalan, dan demikian pula hidup kita.


Ketulusan Itu Memiliki Frekuensinya Sendiri

Lakukan segalanya dengan tulus dari hati. Setiap manusia memancarkan frekuensi dari batinnya.

Ketidaktulusan bisa disembunyikan oleh kata dan sikap,
namun getarannya tidak pernah bisa dibungkam.

Pada akhirnya, hati yang jujur akan terasa lebih kuat daripada topeng mana pun.

Sebab manusia memang sering berjalan di balik topengnya sendiri:
topeng kebaikan, topeng loyalitas, topeng kepedulian.

Namun waktu adalah makhluk yang selalu jujur;
ia akan membuka semua yang disembunyikan.


Pelajaran dari Sengkuni dan Mereka yang Menjilat Kekuasaan

Sejarah memberi banyak contoh bahwa seseorang sering jatuh bukan karena musuhnya,
melainkan karena kepalsuan yang ia pelihara sendiri.

Sengkuni adalah bukti abadi bahwa ketidaktulusan, seindah apa pun dibungkus,
pada akhirnya akan hancur oleh dirinya sendiri.

Demikian juga mereka yang hidup dari menjilat kekuasaan.
Langkahnya mungkin tampak tinggi,
namun akhirnya terjerembab oleh ketidakmurnian niat.

Karena itu, jadilah manusia yang hatinya bersih.
Berbuat baiklah tanpa menagih balasan.
Bekerjalah tanpa mengharap tepuk tangan.


Semesta Tidak Pernah Salah Hitung

Dalam alam semesta yang tertib,
kebaikan selalu mencari jalan untuk kembali kepada pemiliknya.

Sebesar apa pun kebaikan yang engkau berikan,
sebesar itu pula ia akan kembali — dalam bentuk yang mungkin tak pernah kita duga.

Maka tetaplah berjalan dengan tenang.
Tetaplah bekerja dengan tulus.
Tetaplah menjadi diri sendiri yang terbaik.

Sebab proses tidak akan mengkhianati hasil,
dan waktu tidak akan mengkhianati orang yang jujur.


IH – Jakarta, 15 November 2025


Friday, 29 August 2025

Gejolak di Gerbang Istana

Bayang-Bayang Mantan Raja


Alkisah, di sebuah galaksi jauh nan asing, berdirilah sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Pakhoy. Kerajaan ini baru saja berganti kepemimpinan. Seorang raja muda, gagah, dan penuh ambisi bernama Raja Venom, naik tahta menggantikan sang mantan penguasa yang legendaris: Raja Marvel.

Namun, tahta ternyata tidak pernah benar-benar kosong dari bayangan. Meskipun sudah turun, Raja Marvel masih memiliki kekuatan yang mengakar. Ia masih mengendalikan banyak laskar perang, para hulubalang, dan bahkan putra mahkota yang kini menjabat sebagai patih bagi Raja Venom. Bayangan itu terus mengikuti langkah sang raja baru, seperti hantu yang menolak dilupakan.

Pada awalnya, hubungan keduanya berjalan tenang, meski kaku. Tapi sebagaimana hukum karma yang selalu menagih janji, perselisihan pun perlahan muncul. Sejarah mencatat, dahulu saat Raja Marvel berkuasa selama sepuluh tahun, ia pernah mengkhianati Pasukan Merah, pasukan yang setia mendukungnya menaklukkan Pakhoy dan menghantarkannya menjadi Raja. Kini, pengkhianatan itu seperti berbalik arah.

Raja Venom mulai menemukan puing-puing kebobrokan yang ditinggalkan pendahulunya. Sistem manajemen kerajaan porak poranda, rakyat sengsara, dan para pejabat yang katanya setia ternyata hanya kumpulan pencuri berkedok bangsawan. Hulu balang yang korup, patih yang licik, pejabat istana yang rakus. Semuanya menyedot kekayaan negeri, sementara rakyat hanya menelan penderitaan.

Raja Marvel dahulu pandai bersandiwara. Ia mengenakan topeng kesederhanaan, menampakkan diri sebagai penguasa dermawan. Namun, di balik itu, tangannya berlumuran darah dan kerakusan. Ia bahkan menyewa para pemain ketoprak untuk terus menyanjung namanya di setiap pementasan. Seakan-akan, ia adalah dewa penolong bagi rakyatnya. Dan banyak orang yang tertipu.

Raja Venom tidak tinggal diam. Satu per satu orang kepercayaan lama ditangkap, diadili atas tuduhan korupsi dan penggelapan. Kerajaan dibersihkan. Istana tidak lagi menjadi tempat para pencuri berjubah kebesaran. Namun, langkah itu sekaligus menyalakan api di hati sang mantan.

Raja Marvel, dengan siasat lamanya, kembali bergerak. Tidak secara terang-terangan. Ia tahu, kekuatan paling dahsyat bukanlah pedang atau tombak, melainkan kata-kata. Ia menyulut propaganda. Dari balik layar, ia menyebarkan bisikan fitnah ke telinga rakyat. Ia kembali memanfaatkan para pemain ketoprak yang populer dan banyak memiliki penggemar, yang digandrungi banyak orang, untuk menyebarkan cerita tentang buruknya kepemimpinan Raja Venom, bahkan pemain ketoprak turun ke jalan-jalan dalam propaganda.

Pelan-pelan, bisikan itu menjelma gelombang. Rakyat mulai gusar, mulai meragukan raja baru mereka. Di kadipaten-kadipaten, gejolak muncul. Pemimpin yang dipilih Raja Venom mulai digoyang. Kerajaan bergetar.

Targetnya jelas: menjatuhkan Raja Venom. Karena jika raja muda itu lengser, maka putra mahkota—yang kini menjadi patih sekaligus boneka Raja Marvel—akan naik takhta. Dengan begitu, semua dosa dan kasus lama yang perlahan tercium sang raja baru bisa disembunyikan kembali.

Inilah permainan kekuasaan:
ketika kebenaran dipertaruhkan, fitnah dijadikan senjata, dan rakyat menjadi papan catur bagi para penguasa.

Pakhoy, Sabtu Wage 1959

Friday, 11 April 2025

Lebih dari Sekadar Ngafal: Yuk, Pake Otak Buat Mikir!


🧠 Otak Kita Bukan Cuma Flashdisk

Pernah nggak sih kepikiran—kalau otak kita cuma dipakai buat ngapalin, nyimpen info dari luar, terus dikeluarin lagi waktu ujian atau pas ngobrol... ya, kita ini mirip-mirip aja sama komputer.

Serius. Bayangin aja: ada data masuk—dari buku, dari media sosial, dari omongan orang—terus otak kita kayak copy-paste aja. Rekam, simpan, keluarin. Kalau kayak gitu doang, jujur, bedanya kita sama mesin apa?

Tapi untungnya, kita diciptain bukan buat jadi mesin. Kita manusia. Dan manusia punya satu kekuatan yang nggak dimiliki komputer secanggih apa pun: kemampuan untuk mikir, merenung, dan mencipta.

🔍 Lebih Dari Sekadar Ingat

Ngapalin itu penting, iya. Tapi jangan berhenti sampai situ. Informasi yang kita dapetin itu ibarat bahan mentah. Kalau kita cuma nyimpen bahan mentah di gudang, nggak akan jadi apa-apa. Tapi kalau kita olah—kayak koki yang ngolah bahan jadi makanan enak—nah, di situ baru ada nilainya.

Misalnya, kamu baca berita soal perubahan iklim. Kalau cuma dihapal, ya kamu tahu datanya. Tapi kalau kamu mikirin dampaknya, kamu mulai mikir kenapa itu bisa terjadi, apa hubungannya sama gaya hidup kita, dan gimana caranya bikin perubahan... itu udah masuk ke level yang beda. Kamu bukan cuma tahu, tapi kamu paham. Dan dari pemahaman itu bisa muncul ide, aksi, bahkan gerakan.

💡 Ide Itu Mahal

Di zaman sekarang, informasi gampang banget diakses. Satu klik, satu scroll, kamu bisa tahu apa aja. Tapi justru karena semuanya serba instan, kemampuan buat mengolah informasi itu jadi makin langka dan berharga.

Kamu nggak harus jadi penemu atau filsuf buat bisa berpikir kritis. Cukup mulai dari hal kecil: jangan langsung telan mentah-mentah info yang kamu dapet. Tanyain: “Kenapa bisa gitu?” “Apa ada cara lain?” “Gue setuju nggak, ya?”

Karena ketika kamu bisa mikir kayak gitu, kamu nggak cuma jadi penonton dunia—kamu jadi bagian dari orang-orang yang ngebentuknya.

❤️‍🔥 Mesin Bisa Canggih, Tapi Nggak Bisa Merasa

Satu lagi yang bikin kita beda dari komputer: kita punya perasaan. Kita bisa ngerasa marah, senang, sedih, semangat. Kita bisa berempati. Kita bisa bikin keputusan bukan cuma karena logika, tapi juga karena hati.

Dan ketika logika dan rasa bisa jalan bareng, hasilnya sering kali luar biasa. Musik, film, tulisan, desain—semuanya lahir bukan dari hafalan, tapi dari kombinasi antara pengalaman, pemikiran, dan rasa.

🚀 Jadi, Gunain Otakmu Lebih Dari Sekadar Mengingat

Pakai otakmu buat mikir, bukan cuma ngafal. Pakai buat mencipta, bukan cuma nyalin. Dunia ini udah penuh sama data dan informasi, tapi masih butuh lebih banyak orang yang bisa kasih makna.

Karena di akhir hari, yang bikin kamu beda bukan seberapa banyak hal yang kamu tahu, tapi apa yang kamu lakuin dengan hal-hal yang kamu tahu.


Apa Sih Emansipasi Wanita Itu? Jangan Salah Kaprah, Ya!


Apa Sih Emansipasi Wanita Itu? Jangan Salah Kaprah, Ya!

Emansipasi wanita sering banget dimaknai sebagai proses membebaskan perempuan dari belenggu diskriminasi, ketidakadilan, dan ketimpangan gender. Tujuannya? Ya simpel aja—biar perempuan punya hak dan kesempatan yang sama kayak laki-laki, di semua bidang kehidupan.

Tapi sayangnya, masih banyak yang salah paham. Ada yang mikir kalau emansipasi itu berarti perempuan dan laki-laki harus punya peran yang persis sama dalam segala hal. Pokoknya, harus "sama rata, sama rasa."

Padahal, kenyataannya nggak sesederhana itu. Tuhan udah ciptain laki-laki dan perempuan sebagai dua makhluk yang beda—dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kalau diibaratkan kayak puzzle, laki-laki dan perempuan tuh saling ngisi, saling melengkapi. Bisa jadi kalau semua aspek diukur, hasil akhirnya seimbang. Tapi tetap aja, ada area di mana perempuan lebih unggul, dan ada juga yang jadi kekuatan laki-laki.

🤯 Contohnya nih…

Secara Psikologis:

Perempuan cenderung lebih unggul dalam:

  • Empati & EQ: Lebih peka sama perasaan orang lain.

  • Komunikasi: Jago ngomong dan nyampein perasaan.

  • Multitasking: Bisa ngerjain beberapa hal sekaligus dengan lebih efektif.

  • Kesabaran & Ketekunan: Konsisten dan telaten, apalagi dalam jangka panjang.

Laki-laki biasanya lebih jago di:

  • Problem solving & kemampuan spasial: Hebat dalam orientasi arah, peta, dan berpikir visual.

  • Ambil risiko: Nggak ragu buat nyoba hal baru atau ambil keputusan besar.

  • Fokus ke tujuan: Lebih fokus ke hasil, kadang lebih logis daripada emosional.

🧠 Secara Anatomi & Otak:

Perempuan punya lebih banyak koneksi antara belahan kiri dan kanan otak → cocok buat multitasking dan ngolah emosi plus logika secara bersamaan.

Laki-laki punya lebih banyak koneksi atas-bawah di otak → bagus buat fokus dan gerak motorik.

Dari segi mata dan persepsi visual:

  • Laki-laki lebih tajam dalam lihat gerakan dan visual jarak jauh.

  • Perempuan lebih detail dalam lihat warna, ekspresi wajah, dan hal-hal kecil.

🧭 Soal Kepemimpinan Gimana?

Laki-laki: Cenderung punya gaya kepemimpinan yang tegas dan langsung to the point. Lebih sering naik ke posisi pemimpin dalam struktur yang hierarkis.

Perempuan: Lebih kolaboratif dan partisipatif. Suka dengerin opini tim, bangun kerja sama, dan bikin keputusan bareng-bareng.

🎯 Jadi, Emansipasi Wanita Itu Bukan Masalah Siapa Lebih Hebat...

Emansipasi itu soal kesempatan dan hak yang sama, tapi tetap sesuai dengan porsi, potensi, dan kodrat masing-masing. Misalnya di medan perang—laki-laki bisa bertarung di garis depan, sedangkan perempuan bisa ambil peran di tim medis atau logistik. Bukan karena nggak mampu, tapi karena memang secara fisik dan psikologis mereka punya kekuatan yang beda.

Toh, mata laki-laki lebih fokus ke jarak jauh, cocok buat deteksi musuh. Sedangkan perempuan lebih teliti dan sabar, cocok buat nanganin orang yang luka atau butuh perhatian detail.

💬 Intinya?

Laki-laki dan perempuan itu diciptakan untuk saling melengkapi, bukan bersaing siapa lebih unggul. Dan itu lah makna sejati dari emansipasi wanita—perempuan punya hak yang sama, tapi tetap punya ruang untuk menunjukkan keunikannya sendiri.

SELAMAT HARI KARTINI

Tanah Bumbu, 21 April 2025


Monday, 17 March 2025

Kesalahan yang Bikin Sukses: Tiga Cerita, Satu Pelajaran Penting


Kesalahan yang Bikin Sukses: Tiga Cerita, Satu Pelajaran Penting

Kadang hal besar datang dari hal yang nggak sengaja—bahkan dari sebuah kesalahan. Nggak percaya? Nih, aku ceritain tiga kisah unik yang bisa bikin kamu mikir dua kali sebelum panik gara-gara salah langkah.

🍽️ Kisah Saus Tiram: Lupa, Tapi Jadi Legenda

Jadi ceritanya, ada seorang pemilik kedai teh di Tiongkok bernama Lee Kum Sheung. Dia lagi masak tiram, tapi karena sibuk ngelayanin pelanggan, dia lupa kalau air rebusannya udah hampir habis. Eh, ternyata yang tersisa malah cairan kental yang... enak banget!

Dari situ dia mulai bereksperimen: nambahin gula dan bahan lain, sampai akhirnya lahirlah saus tiram. Tahun 1888, dia bikin pabrik kecil dan brand legendaris: Lee Kum Kee, yang sekarang udah mendunia. Semua berawal dari kelupaan, bro!

🍳 Kisah Telur Dadar Mbak Yuni: Gagal Jadi Padang, Sukses Jadi Viral

Tahun 2007, Mbak Yuni dari Jogja pengin bikin telur dadar ala Rumah Makan Padang. Tapi hasilnya malah beda jauh—telurnya jadi garing banget, lebih gurih, dan kriuk.

Alih-alih kecewa, dia malah terus pakai resep itu. Hasilnya? Warung Pojok Mbak Yuni jadi viral! Sekarang, dalam sehari bisa ngabisin 60 kg telur cuma buat menu favoritnya: nasi telor dadar crispy.

📖 Kisah Buku Best Seller Karena Salah Cetak

Penulis asal Tiongkok, Li Kai Fu, bikin buku motivasi berjudul “How to Change Your Life in 30 Days.” Tapi saat rilis, judulnya malah salah cetak jadi “How to Change Your Wife in 30 Days.”

Lucu? Iya. Tapi lebih dari itu—bukunya jadi best seller dan laku 2 juta copy dalam 2 minggu. Setelah diperbaiki ke judul yang benar, penjualannya malah drop banget—cuma 3 buku seminggu. Ouch.

✨ Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil?

1. Kesalahan Bisa Jadi Inovasi

  • Saus tiram lahir dari kelupaan.

  • Telur crispy Mbak Yuni tercipta dari kegagalan resep.

  • Buku viral gara-gara salah cetak judul.

➝ Intinya? Jangan buru-buru panik kalau salah. Kadang justru dari situ ide besar lahir.

2. Eksperimen dan Berani Coba Itu Penting

  • Lee Kum Sheung bereksperimen, bukan nyerah.

  • Mbak Yuni terima hasilnya dan menjadikannya signature dish.

➝ Kunci sukses? Berani coba hal baru dan terbuka sama hasil yang nggak sesuai ekspektasi.

3. Cara Menyajikan Sesuatu Itu Krusial

  • Judul "nyeleneh" bisa menarik perhatian dan bikin viral.

➝ Dalam hidup atau bisnis, cara kita "ngemas" sesuatu itu pengaruh banget. Mau produk bagus? Harus dibarengin sama cara penyampaian yang cerdas.

🎯 Penutup:

Kesalahan bukan akhir cerita. Bisa jadi itu awal dari hal keren—asal kamu peka, kreatif, dan mau terus nyoba.


Sunday, 15 September 2024

PESAN UNTUK ANAK ANAK KU

Untuk Anakku Tersayang,

Ayah dengar cerita-ceritamu tentang kehidupan di pesantren… tentang teman-teman yang baik, yang bisa diajak berbagi tawa dan canda. Tapi juga tentang teman yang suka usil, jahil, yang kadang berkata menyakitkan, yang membuatmu sedih dan merasa sendiri. Ayah dengar semuanya, Nak. Dan sungguh, hati Ayah ikut sedih saat kamu bercerita tentang rasa sakit karena kata-kata yang menyakitkan.

Bukan karena Ayah tidak ingin membela atau tidak peduli. Bukan pula karena Ayah tidak mampu membantu. Tapi Ayah ingin kamu belajar sesuatu yang penting dalam hidup: bahwa tidak semua orang di dunia ini akan memperlakukan kita dengan baik. Tidak semua orang bisa mengerti perasaan kita. Dan tidak semua orang akan menjadi seperti yang kita harapkan. Mereka juga punya cara sendiri dalam menjalani hidup, dengan segala kekurangan dan luka yang mungkin belum mereka sembuhkan.

Anakku, suatu hari nanti, kamu akan tahu… bahwa hidup ini tak selalu lembut. Dunia ini, meski indah, bisa juga terasa keras dan penuh ujian. Kamu akan bertemu lebih banyak orang, dengan sikap dan latar belakang yang jauh lebih beragam. Kamu akan mengalami banyak hal yang menguji kesabaran, keteguhan, dan hatimu.

Dan itulah alasan kenapa Ayah ingin kamu belajar dari sekarang—belajar mengelola perasaan saat kamu terluka, belajar menenangkan hati saat emosi memuncak, belajar menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai harapan. Belajar membedakan mana yang harus kamu lawan, mana yang cukup kamu lepaskan.

Ayah percaya… perlahan-lahan, kamu akan menemukan caramu sendiri. Kamu akan lebih kuat, lebih bijak. Dan Ayah yakin, kamu bisa melewati semua ini.

Nak, bukan karena Ayah tak menyayangimu, makanya Ayah membiarkan ini terjadi. Justru karena Ayah sangat menyayangimu, Ayah ingin kamu menjadi pribadi yang tangguh. Ayah ingin kamu punya bekal menghadapi dunia ini, bukan dengan kemarahan… tapi dengan hati yang kuat dan penuh kasih.

Dulu, Ayah juga pernah menjadi anak-anak sepertimu. Nenekmu mendidik Ayah dengan cara yang sama. Ayah pernah merasa bingung, sedih, bahkan takut. Tapi dari situlah Ayah belajar—tentang kehidupan, tentang bagaimana menjaga hati, tentang bagaimana tetap bertahan meski rasanya ingin menyerah.

Dan sekarang, Ayah ingin kamu juga merasakan proses itu. Karena Ayah tahu, kamu mampu. Dan kalau kamu berhasil melewati ini, kamu akan tumbuh jadi pribadi hebat—yang tak mudah goyah oleh masalah, yang tak mudah tumbang oleh badai.

Habiskan masa sulitmu sekarang, Nak… agar kelak hidupmu lebih ringan. Belajarlah sebanyak-banyaknya dari setiap luka, setiap kejadian. Karena semua itu akan membentukmu jadi sosok yang luar biasa.

Ayah akan selalu mendoakanmu. Semoga Allah meridhoi setiap langkahmu. Tetaplah semangat, tetaplah kuat.

Ayah sayang kamu, selalu. 🤍


Friday, 14 July 2023

SUFI

SUFI

Ilmu tasawuf itu secara amaliyah ahlak (perilaku) sudah dipraktekan sejak jaman Nabi Muhammad SAW namun secara keilmuwan (disusun dalam metode keilmuan) baru ada setelah era khulafaturrasidin.

Tasawuf berasal dari akar kata benda : “Shuff” yang berarti (pakaian) bulu domba. Kata kerjanya : “Tashawwafa” memakai bulu domba (sebagai pakaian), dan subjek/orang yang memakai bulu domba sebagai pakaian disebut “shufi”.

Bulu domba pada masa lalu adalah lawan dari sutera. Jika sutera adalah bahan pakaian yang mahal, maka bulu domba adalah pakaian orang faqir. Maksud dari memakai bulu domba sebagai pakaian adalah, bahwa orang-orang yang menempuh jalah tasawuf (shufi), bersebrangan dengan kemewahan dunia atau tidak mementingkan penampilan diri di hadapan manusia, melainkan menomor satukan penampilan diri di hadapan Allah SWT. 

Namun ilmu tasawuf yang mendalami terkait ilmu ma'rifat (pengenalan Allah) pada hari ini sudah banyak yang bergeser dari tujuan awal ajarannya oleh tokoh - tokoh tasawuf seperti Rabiatul Adawiyah, Imam Al Ghazali, dan ulama ulama lain.

Ma’rifat berasal dari kata ‘arafa, yu’rifu, irfan, ma’rifah yang artinya pengetahuan, pengalaman, atau pengetahuan Ilah. Sedangkan secara bahasa ma’rifat berarti pengetahuan rahasia hakekat agama.

Dalam istilah sufi, ma’rifat dapat diartikan cahaya yang disorot pada hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Inilah pengetahuan hakiki yang datang melalui kasyf (menyingkap), musyahadah (penyaksian), dan dauq (cita rasa). Pengetahuan ini berasal dari Allah SWT.

Imam Al-Ghazali menerangkan, bahwa ma’rifat menurut pengertian bahasa adalah ilmu pengetahuan yang tidak bercampur dengan keraguan. Inti tasawuf Imam Al Ghazali adalah jalan munuju Allah SWT. Sarana ma’rifat seorang sufi adalah qalbu (hati), bukan perasaan dan tidak pula akal (pemikiran). Konsepsi ini, qalbu (hati) bukan diartikan sebagai wujud yang sebenarnya akan tetapi qalbu adalah bagaikan cermin, sementara ilmu adalah pantulan gambaran realitas yang termuat didalamnya.

Lebih terperinci, Imam Al Ghazali mengemukakan pengertian lebih jelas, yaitu Ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah dan aturan-aturan-Nya yang melingkupi seluruh alam. Seorang yang telah sampai pada ma’rifat berada dekat dengan Allah, bahkan ia dapat memandang wajahnya.

Namun banyak orang awam belajar ma'rifat akhirnya malah meninggalkan syaria'at Agama, padahal justru ilmu ma'rifat seharusnya menjadikan syari'at sebagai sarana dalam bercengkrama dengan Tuhan tanpa perantara. 

Mereka lupa bahwa sumber Ilmu adalah Nabi Besar Muhammad SAW, Bahkan terciptanya Alam Semesta karena kemuliaan Nabi Muhammad SAW, Mereka lupa bahwa dia mengetahui dan mengenal siapa itu “ALLAH” dari lisan Nabi Mulia Muhammad SAW, Dia tau bahwa Allah SWT itu Tuhan juga dari Nabi Muhammad SAW, jadi semua Sumber Ilmu Ma’rifat, guru dari para guru tak lain tak bukan bersumber dari Nabi Agung Muhammad SAW yang disampaikan dan diajarkan kepada Sahabat, lalu dari sahabat disampaikan dan diajarkan kepada Tabi’in, selanjutnya dari Tabi’in diajarkan kepada Tabi’in – Tabi’in, dan seterus sampai kepada guru guru kita dan muaranya sampai pada kita.

Bahkan Nabi Muhammad SAW yang pernah mehadap Allah SWT dan diperlihatkan Syurga dan Neraka saja masih melakukan Syariaat agama dengan sungguh - sungguh, para sahabat yang sebagian dijamin masuk surga saja selalu menjadikan sholat sebagai sarana berkomunikasi dengan Allah SWT, kok kita yang derajat nya saja jauh dibawah imam Al Ghozali (guru ma’rifat) sudah ingin meninggalkan syariat.

Dan Firman ALLAH SWT dalam Al Quran “Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. (An-Nisaa/4 : 80).

Bagaimana cara mentaati Rasul seperti yang di firmankan Tuhan?? Ya dengan meniru apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Nabi Nya.

Sering kita mendengar orang awam yang belajar Ma’rifat berkata “Ilmu itu tidak perlu berguru, karena yang tau baik dan buruk itu adalah qolbu, karena tidak ada jaminan guru itu akan selamat di akherat, belum tentu guru itu lebih baik dari kita”

Pertanyaannya :

1. Benarkah kita sendiri atau qolbu (hati) kita yang tahu tentang baik & buruk?

Sebelum kita bahas lebih jauh, perlu ditanya apa itu definisi baik dan apa itu definisi buruk?? Karena hal yang kita anggap baik belum tentu orang lain menganggapnya baik. 

Contoh, makan jongkok di Negara India dianggap baik tetapi bagi sebagian besar suku jawa itu dianggap hal buruk. 

Di India pusat perempuan terbuka dianggap baik tetapi jika itu di Indonesia maka di anggap buruk. 

Membunuh bahkan dianggap baik oleh kaum jahiliyah dijaman sebelum kenabian, mengubur bayi perempuan dianggap baik oleh suku qurais pada jaman jahiliyah, dan banyak hal yang lain dimana akal tidak bisa menentukan hal baik dan buruk karena baik dan buruk itu bisa berbeda persepsi tergantung kemampuan akal dijaman itu yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan dan hal lainnya. 

Maka untuk menentukan sebuah perbuatan itu baik atau buruk maka pedoman dasar nya adalah apa yang tercantum didalam Al Quran dan Hadist.

2. Apakah ada jaminan bahwa guru kita akan selamat di akherat kelak? 

Tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin keselamatan siapapun, bahkan Nabi Muhammad SAW sekali pun tidak dapat menjamin manusia pasti masuk surga atau neraka kecuali semua informasi yang diterima merupakan wahyu dan petunjuk dari Allah SWT. Selamat atau tidak selamat nya seseorang kelak di akherat itu merupakan hak Prerogratif Allah SWT, dan ketaatan kepada Allah SWT itu adalah salah satu usaha kita agar turunnya Rahmat dan ampunan.

Rasulullah berdabda :

"Tidak seorang pun di antara kalian yang akan diselamatkan oleh amal perbuatannya. Seorang lelaki bertanya: Engkau pun tidak, wahai Rasulullah? Rasulullah saw. menjawab: Aku juga tidak, hanya saja Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku akan tetapi tetaplah kalian berusaha berbuat dan berkata yang benar" (Hadits Shohih Bukhori Jilid 8, nomor 470)

3. Perlukah kita berguru???

Walaupun tidak ada jaminan manusia akan selamat di akherat kelak kecuali atas Rahmat Allah SWT, termasuk guru - guru kita. Tetapi belajar melalui guru itu perlu, karena fungsi berguru adalah untuk memastikan, bahwa ilmu yg kita terima, sama persis dengan apa yang Nabi ajarkan,, ucapan lisan guru sama dengan ucapan lisan nabi muhammad SAW. kalau istilahnya dalam agama yaitu "sanad"

Sanad itu contohnya seperti ini, misal kata “TAAT”, darimana kita bisa tahu kata “TAAT”, Taat itu bukan bahasa Indonesia, atau bahasa suku orang Indonesia, “TAAT” itu bahasa arab yang artinya tunduk, patuh, ngawulo, penghambaan, darimana kita tahu orang menyebut “TAAT” padahal jarak arab saudi ribuan kilo meter dari indonesia, atau bahkan bisa berhari hari perjalanan laut dan dijaman itu belum ada Telpon, belum ada Facebook.

Lalu darimana orang dijaman kata “TAAT”, orang jaman dulu mengetahui kata taat dari gurunya, guru nya dari gurunya, sampai pada guru - gurunya yang pernah belajar ke Negri Arab, dan seterus nya. Dari kata Taat saja kita sudah bersanad, maka ilmu agama pun bersanad dari nabi Muhammad SAW sampai kepada kita. 

Wallahua'lam


Monday, 3 July 2023

PENYAKIT AIN

PENGETAHUAN DASAR AGAMA ISLAM

Bagian 11

AIN 

Dalam satu riwayat Rasulullah menjelaskan :

“Ain itu benar-benar ada! Andaikan ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, sungguh ‘ain itu yang bisa.” (HR. Muslim No. 2188)

Lalu apa itu ain? 

Ain bisa diartikan sebagai Pandangan Mata atau Mata Jahat atau sebuah keyakinan bahwa seseorang dapat membahayakan atau menyihir orang lain dengan cara hanya sekadar melihat korbannya.

Dengan pengaruh dari pandangan mata yang disertai sifat dengki atau iri kadang terjadi pula pada rasa takjub atau cinta terhadap yang dipandang. Hal ini dapat muncul dari orang yang jahat ataupun orang yang baik, baik pelaku melakukannya dengan sengaja ataupun tidak menyadari, dengan izin Allah. Pandangan mata tersebut menjadi jalan bagi dan dimanfaatkan oleh Setan sehingga memiliki potensi bahaya bagi orang yang terkena.

Berkata Imam Ibnu Atsir dalam An-Nihayah: “Dikatakan bahwa seseorang terkena ‘ Ain, yaitu apabila musuh atau orang-orang dengki memandangnya lalu pandangan itu mempengaruhinya hingga menyebabkannya jatuh sakit."

Bahkan ketika kita ta'jub melihat kecantikan seseorang, kita kagum dan tergila - gila sampai memuji nya melampau batas tanpa mengingat bahwa kecantikannya datang dari Allah, itu bisa menjadikan penyakit Ain. 

Ain merupakan penyakit yang berbahaya hingga bisa menyebabkan kematian, Rasulullah mengajarkan kita umatnya untuk membaca do’a agar terhindar dari penyakit ‘ain, do’a ini juga pernah beliau bacakan untuk kedua cucunya Hasan dan Husein.

"Dengan nama Allah, saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan setiap jiwa atau setiap mata yang dengki, semoga Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah saya meruqyahmu." (HR. Muslim)

Bahkan anak kecil pun bisa tertimpa penyakit ain akibat dari pandangan mata orang lain yang ta'jub, tanpa disadari itu membahayakan bagi si anak. 

Dan yang unik orang tua kita zaman dahulu, mungkin ulama - ulama dahulu mengajarkan tentang cara menghilangkan ain dengan cara yang sederhana, dengan cara yang bisa diterima akal masyarakat waktu itu, mereka tidak mengajarkan dalil dalil yang mungkin susah dipahami oleh nenek nenek kita di zaman itu, tetapi cara nya, ketika ada anak kita, atau bayi kita di puji oleh seseorang, misal "aduh gendut nya, aduh lucu nya, aduh cantik nya, aduh ganteng nya" Atau semacam nya, maka dijawab :

"Sapi' ngangamu lambi' satalingamu"

😀😀begitu lah org tua kita mengenal kan ilmu agama dengan cara mereka sendiri. 

Wallahua'lam


JUDULNYA MASIH SOAL KELOMPOK MEREKA

BAGIAN 10

Pada umum nya ketika sesorang mendapatkan informasi yang menakjubkan bagi diri nya, atau informasi yang dapat menyadarkan betapa luas nya ilmu pengetahuan, biasanya mereka akan merasa paling paham atas persoalan tersebut, lebih jauh ini yang bisa menjadi cikal bakal syndrom atau penyakit psikologi seperti Dunning-Kruger Effect, megalomania, dsb. 

Contoh nya seperti ini, 

Pada suatu hari tidak sengaja kita membaca artikel atau penelitian ilmiah terkait kandungan dan manfaat buah buah han tertentu, maka bermodal dua atau tiga artikel atau beberapa video kita sudah merasa paling paham akan hal itu, kita bisa bercerita ke semua orang, mengingatkan orang, menyebarkan pesan berantai untuk menceritakan apa yang dia ketahui, dia akan meyakini dan memperjuangkan hal tersebut sampai titik darah penghabisan. Padahal dokter, ilmuwan atau orang - orang yang profesinya bergelut dan ahli dibidang tersebut tidak seheboh itu. 

Lebih jauh, mungkin kita pernah mendengar atau tahu tentang kelompok atau organisasi yang meyakini bahwa bumi itu datar. 

Mereka sekumpulan orang - orang yang sebenarnya tidak memiliki kemampuan dan kompetensi dalam melakukan penelitian atau riset besar sekala internasional baik dari segi biaya maupun metodologi penelitian. Bermodal potongan video, gambar, artikel, pernyataan orang - orang besar, pemikiran akal dan sebagianya yang kadang dibumbui dalil dalil dari kitab suci, mereka seolah - olah paling tau dan paling benar bahkan mengalahkan orang orang yang memang profesi nya dibidang itu. 

Ketika argumen nya terbantahkan oleh orang - orang yang memang expert dibidang itu atau yang profesi nya terkait permasalahan tersebut, misal pernyataan ilmuwan, astronot dan lain lain maka kata pamungkas nya adalah "mereka bagian dari konspirasi".

Demikian juga dalam hal agama, ketika ada orang yang dalam istilah populer saat ini " Hijrah" Lalu baru belajar agama dari beberapa kajian ustadz seminggu sekali atau bahkan dari video youtube atau searching google, mereka sudah berani melabeli orang lain sesat, bid'ah, kafir, tidak ada tuntunannya dan sebagainya. 

Bahkan lucu nya yang dituduh sesat terkadang adalah orang - orang yang sudah belajar agama sejak masih kecil waktu masih baru belajar bicara sampai sudah dewasa. Bertahun - tahun di pesantren untuk belajar dan menghapal Al Quran. Hapal ratusan hadis beserta sanad nya, hapal Al Quran beserta sebab - sebab di turunkan wahyu tersebut, paham konteks ayat dan hadist berdasarkan tafsir ulama ulama besar, paham sejarah dari masa nabi muhammad, sahabat, tabiin dan seterusnya, belajar dan mengkaji berbagai pendapat ulama - ulama melalui kitab - kitab yang dikarang nya, banyak sekali referensi pemikiran, banyak sekali sumber informasi yang diterima, tetapi dituduh sesat dan melakukan amalan yang tidak ada tuntunannya oleh orang yang baru belajar agama dari potongan video yotube. 

Ya Allah Ya Robb. 

Yaa Rabbi

Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta, bagaimana berfikir sebelum bertindak, bagaimana bersikap santun dalam berbicara, berfikir tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda dan bersabar dalam setiap ujian. Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebijaksana Umar bin Khattab, sedermawan Utsman bin Affan, sepintar Ali bin Abi Thalib, sesederhana Bilal, setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhum

Aamiin ya Rabbal'alamin.


SEJARAH KELAM BERADABAN ISLAM

PENGETAHUAN DASAR AGAMA ISLAM 

BAGIAN 9

SEJARAH 

Di zaman Pemerintahan Ali Bin AbibThalib pusat administrasi dipindahkan dari Madinah Al Munawarah ke Kufah Iraq, dan disanalah tempat meninggal nya khalifah akibat tikaman pedang ibnu muljam seorang khawarij sebagai bentuk balas dendam karena pemberontakan kaum khawarij dapat ditumpas oleh pasukan khalifah. 

Kufah merupakan wilayah yang ditaklukan oleh panglima perang paling terkenal khalid bin walid pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar Sidiq ra. Dikota yang dulunya sebagai kota penyembah api dan kaisar ini lah lahir aliran khawarij yang mudah sekali menumpahkan darah sesama muslim jika tidak sepaham. 

Daerah yang dulunya dikuasai persia ini juga berisi orang orang majusi-persia yg baru setengah setengah belajar islam, luas nya wilayah yang tidak sebanding dengan banyak nya ulama yang mengajar agama sehingga sebagian menjadi aliran sesat, kekuasaan persia juga mencakup wilayah kota tua babilonia yang dulu menjadi wilayah raja namrud saat membakar nabi ibrahim. 

Dan dari kufah ini lah pemicu pembantaian keluarga dan kerabat cucu nabi muhammad SAW yaitu sayyidina husein di lembah karbala beberapa kilo meter dari kufah, menurut riwayat dari 73 anggota keluarga semua dibantai oleh pasukan yazid bin muawiyah dan menyisakan cicit nabi ali zainal abidin bin husein ra yang saat itu beliau sedang sakit dan hanya beristirahat di tenda. 

Penduduk kufah, iraq yang masuk wilayah ke khalifahan yazid bin muawiyah mengirimkan surat kepada sayyidina husein ra berisi ketidak puasan dengan pemerintahan yazid bin muawiyah yang menurut mereka dholim dan diktator, mereka meminta perlindungan, mereka berjanji dan bersumpah setia akan mendukung husein dan berbaiat kepada husein. 

Berangkat lah rombongan sayyidina husein dari madinah menuju mekkah, lalu dari mekkah menuju kufah, tetapi setelah rombongan mendekati kufah ternyata keadaan kota tidak seperti yang digambarkan sebelumnya, itu lah awal penghianatan yang dilakukan penduduk kufah sehingga jadi pemicu terjadi pertempuran tidak berimbang antara keluarga dan kerabat sayyidina husen sebanyak 73 orang melawan lebih dari 4.000 pasukan yazid bin muawiyah. 

10 Muharam 61 H  atau 10 Oktober 680 meninggalkan noda hitam dalam peradaban sejarah. 

Wallahua'lam


JIN

PENGETAHUAN DASAR AGAMA ISLAM

BAGIAN 8

JIN

Jin (bahasa arab: جن Janna) kata “(Jin)” berasal dari “Jann” yang berarti tertutup, dalam makna bahasa berarti tersembunyi dan halus. 

Banyak dalil yang menyatakan bahwa Jin benar ada, dan bahkan mahluk kasat mata ini memiliki kehidupan yang serupa dengan manusia namun ber umur sangat panjang.

Apakah hantu (pocong, kuntilanak, gendruwo, tuyul, dsb) merupakan jelma'an dari Jin? Mungkin iya dan mungkin juga tidak. 

Bagi yang berpendapat bahwa Hantu itu benar ada maka mereka meyakini bahwa hantu merupakan jelmaan dari Jin untuk mengganggu manusia, dan jin menjelma sesuai bentuk rupa yang di anggap seram oleh masayarakat setempat, itu kenapa hantu tiap daerah / negara akan berbeda - beda. 

Tetapi ada sebagian orang yang tidak meyakini bahwa Hantu itu ada, karena sampai saat ini belum ada penelitian / riset yang dapat membuktikan jika hantu itu benar - benar ada. 

Peneliti lain mengklaim alasan hantu belum terbukti ada adalah karena manusia belum memiliki teknologi yang tepat untuk menemukan atau mendeteksi dunia gaib.

Dalam sebuah artikel berjudul Things That Go Bump in the Literature: An Environmental Appraisal of "Haunted Houses", para pakar menyebut riset-riset tentang rumah hantu kebanyakan inkonsisten atau lemah

Sebagian juga berpendapat bahwa mitos hantu adalah bentuk propaganda penjajah dalam menebar teror kepada penduduk lokal, misal mitos hantu yang gentayangan pada malam jum'at adalah bentuk propaganda penjajah agar umat islam tidak melakukan perkumpulan dan musyawarah selepas sholat isya di surau - surau atau masjid yang dapat memicu ide pemberontakan pada masa itu.

Terlepas dari Hantu itu mitos atau fakta, bahwa keberadaan Jin adalah benar sesuai dalil - dalil yang telah sampai kepada kita, jin bisa berkembang biak, memiliki habitat, makan dan minum dan sebagianya meskipun kehidupannya tidak sama dengan yang dilakukan oleh manusia. Bahkan kata nabi syetan dari golongan jin bisa masuk kedalam diri manusia

"Sesungguhnya setan menyusup dalam diri manusia melalui aliran darah.” (HR. Bukhari) 

Dan ketika jin merasuki manusia kita lebih mengenal nya dengan istilah kesurupan atau kerasukan, bahkan ketika orang kesurupan mengaku - ngaku sebagai leluhur yang sudah meninggal, misal ayah kita, ibu kita, kakek kita atau siapa pun yang sudah meninggal maka itu dipastikan adalah kerja nya jin. Karena orang yang wafat memiliki alam yang berbeda sehingga tidak akan mungkin bisa kembali kedunia. 

Kehidupan terbagi dalam beberapa alam, setelah alam dunia masuk fase alam barzakh yaitu alam sesudah kematian dan masa penantian hari kiamat yang menjadi pintu masuk alam akhirat. Di alam barzakh manusia sudah diminta pertanggung jawabannya atas perbuatan di dunia sehingga sudah ada siksa kubur, ni'mat kubur, pertanyaan malaikat nungkar nangkir, dan sebagainya, maka tidak mungkin manusia yang sudah wafat (berada dalam alam barzakh) bisa dengan mudah jalan - jalan kedunia lalu masuk ke tubuh manusia dan minta kopi pait atau makanan kesukaannya semasa hidup. 

Lalu kenapa orang yang kesurupan dan mengaku seseorang yang telah wafat itu bisa tahu persis kebiasaan atau makanan kesukaan dari orang yang diakui nya, karena bisa jadi yang merasuki tersebut adalah Jin Qorin dari seseorang yang diakui sebagai diri nya. Kata Nabi :

“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang Qorin (pendamping) dari golongan jin.” Para sahabat bertanya, ‘Termasuk Anda, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karena itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik'.” (HR. Muslim)

Maka ketika ada seseorang kerasukan roh leluhur atau roh seseorang yang telah meninggal maka sesuai keyakinan kita sebagai umat islam, itu adalah kerja jin qorin, karena jin qorin mendampingi setiap orang dari lahir sampai wafat maka dia tahu persis apa yang menjadi kebiasaan dari orang yang didampingi. Dan ketika seseorang wafat maka jin qorin akan tetap berada di sekitar wilayah yang sering ditempati seseorang tersebut semasa hidup nya. 

Wallaua'lam


MASA PEMERINTAHAN SESUDAH NABI MUHAMMAD SAW

PENGETAHUAN DASAR AGAMA ISLAM

BAGIAN 7
MASA PEMERINTAHAN SESUDAH NABI MUHAMMAD SAW

Menurut riwayat bahwa Nabi Muhammad SAW wafat di madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 hijriyah atau 8 Juni 633 Masehi.
Kepergian Nabi Muhammad SAW membuat umat islam tergoncang, bahkan sahabat Umar bin Khatab RA pada saat itu marah kepada siapa saja orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat. Tidak ada satupun yang berani mengingatkan pada mantan preman paling ditakuti dimasa jahiliyah yang kemudian menjelma menjadi tokoh paling disegani dan berpengaruh setelah masuk Islam itu.

Lalu Abu Bakar RA pun mendatangi Umar Bin Khatab RA dan membacakan sebuah wahyu Allah SWT yang sebelumnya pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

"Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur. (Q.S. Ali Imran:144)

Lalu Abu Bakar RA berkata "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha hidup"
Maka setelah itu tersadar lah semua Umat Islam dan mulai mempersiapkan apa yang akan dilakukan setelah ditinggal kan oleh manusia paling mulia.

Lalu sahabat berkumpul dan bermusyawarah untuk menentukan imam dan pemimpin umat islam. Masa pemerintahan selanjut nya terkenal dengan sebutan khulafaurrasyidin

1. Abu Bakar (11-13 H / 632 - 634 M)
2. Umar Bin Khatab (12-23 H / 634 - 644 M)
3. Usman Bin Affan (23-35 H / 644 - 656 M)
4. Ali Bin Abi Thalib (35-40 H / 656 - 661 M)

Setelah Ali Bin Abi Thalib wafat ke khalifahan dipimpin oleh anak nya Hasan RA yang juga cucu Nabi Muhammad SAW tetapi banyak sejarawan tidak mencatatkan karena kepemimpinan yang sebentar dan terjadi banyak kegaduhan politik yang menyebabkan Hasan RA mundur dari Jabatannya.

BANI UMAYYAH Selanjutnya ke khalifahan di pimpin oleh BANI UMAYYAH yang pusat pemerintahan berada si Damaskus, Syiria. Khalifah Bani Umayyah I di pimpin oleh 13 khalifah sejak tahun 661 M sampai dengan tahun 750 M, yang kekuasaannya mencapai Afrika Utara dan Spanyol (Andalusia). BANI ABBASIYAH Setelah keruntuhan bani umayyah maka kekhalifahan dipimpin oleh 37 khalifah dari bani abbasiyah dengan periode kepemimpinan pertama sejak tahun 750 - 1258 M. Pusat pemerintahan di Baghdad Irak, dengan kekuasaan mencakup wilayah timur tengah dan perbatasan eropa yang saat ini wilayah tersebut masuk kedalam wilayah 37 Negara dunia.

Pada masa bani Abbasiyah Periode II tahun 1261 - 1517 M kekhalifahan yang memiliki pusat pemerintahan di Mesir ini lebih hanya sebagai simbol pemersatu umat islam karena semakin luas nya daerah kekuasaan yang masing masing wilayah / dinasti memiliki pengelolaan pemerintahannya sendiri. Bahkan di mesir sendiri khalifah tidak memiliki peran besar karena yang menjalankan roda pemerintahan adalah kesultanan Mamluk. Dan kekhalifahan abbasiyah berakhir di tahun 1571 ketika kesulatanan mamluk ditaklukan oleh kesultanan usmaniyah. KHALIFAH UTSMANIYAH Selanjutnya ke khalifahan di kuasai Kekhalifahan Utsmaniyah sejak tahun 1571 - 1924 M dengan kekuasaan yang semakin berkurang. Dan pada praktiknya para pemimpin khalifah utsmani sangat jarang menggunakan istilah kepemimpinan dengan khalifah selain hanya sebagai bentuk symbol upaya untuk mempersatukan kembali umat islam untuk menghadapi imperalisme Barat.

Dan puncaknya pada tanggal 3 Maret 1924 system kekhalifahan dibubarkan.