Thursday, 27 November 2025

Ketika Ibu Pergi

 

Ketika Ibu Pergi: Duka Paling Sunyi yang Tak Pernah Benar-­Benar Sembuh

Kematian adalah kemestian. Setiap jiwa yang bernyawa pasti akan tiba pada ajalnya — kita, orang-orang yang kita cintai, semuanya akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Hidup bukan tentang menunggu kapan waktu itu datang, tetapi tentang bekal apa yang kita bawa pulang kelak.

Namun dari seluruh kisah tentang kepergian, kematian seorang ibu adalah luka yang paling sunyi, kehilangan yang paling dalam, dan duka yang tak bisa benar-benar kita pahami sampai saat itu tiba.


Ketika Doa Itu Terputus

Saat seorang ibu pergi, terputuslah doa yang selama ini naik ke langit tanpa jeda. Doa yang tak pernah meminta imbalan apa pun, doa yang bahkan sering kita lupakan, padahal menjadi alasan mengapa langkah kita begitu ringan selama ini.

Pintu surga yang dulu terasa dekat, mendadak seperti menjauh dalam sekejap.


Kasih Sayang yang Tak Lagi Bisa Kita Peluk

Kepergian ibu bukan sekadar kehilangan seseorang. Itu adalah kehilangan:

  • rumah,

  • pelukan tempat kita kembali,

  • doa yang menjadi tameng hidup,

  • hati yang diam-diam menjaga kita dari segala arah.

Kasih sayangnya yang tak pernah bertepi lenyap dari pelukan kita. Hilang tempat bersandar ketika dunia terasa begitu berat. Padam cahaya yang selalu menuntun kita pulang — bahkan ketika kita pulang dalam keadaan paling hancur.

Kepergian ibu adalah kehilangan yang membuat kita belajar, bahwa ternyata ada rasa sakit yang tak bisa diceritakan, hanya bisa dibawa, pelan-pelan diterima, dan seumur hidup dirawat.


Kehilangan yang Mengubah Segalanya

Kehilangan ibu bukan hanya kehilangan sosok perempuan yang melahirkan kita. Itu adalah kehilangan bagian diri kita sendiri — bagian paling lembut, paling tulus, paling jujur.

Kita kehilangan:

  • rumah tempat hati berteduh,

  • doa yang selama ini menjaga langkah,

  • pelukan yang mampu meredam badai,

  • cahaya yang menuntun arah meski kita tersesat jauh.

Tak ada kehilangan lain yang serupa. Tak ada cinta lain yang menggantikannya.


Namun Cinta Itu Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Walau ia telah pergi, cintanya tetap tinggal. Menyatu dalam langkah kita, dalam sifat-sifat yang ia ajarkan, dalam kebaikan yang diam-diam ia tanamkan dalam diri kita.

Kita mungkin kehilangan raganya,
tapi cinta ibu tidak pernah mati — ia hanya berubah bentuk.
Menjadi kekuatan.
Menjadi pengingat.
Menjadi alasan untuk terus hidup dengan lebih baik.

Pada akhirnya, kehilangan ibu mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan lebih tulus, lebih kuat, dan lebih penuh syukur. Sebab suatu hari nanti, kita pun akan pulang. Seperti ia sudah pulang lebih dulu.


0 komentar: