Hidup Tidak Sesederhana Drama: Tentang Proses, Ketulusan, dan Waktu yang Selalu Jujur
Hidup ini tidak sesimple drama China, di mana tokoh utama yang diremehkan tiba-tiba muncul sebagai CEO Laguna dari keluarga Wira setelah satu adegan penghinaan. Dunia nyata tidak bekerja seperti itu.
Dalam perjalanan hidup yang sebenarnya, bertahun-tahun kita mungkin dicibir, diremehkan, dan dikomentari. Namun tetap saja kita belum mampu menunjukkan apa-apa — bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita sedang berproses, dan memang belum menjadi siapa-siapa.
Dan itu tidak apa-apa.
Fokus Pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Seringkali kita menghabiskan energi pada hal yang berada di luar kendali: komentar orang lain, penilaian yang tidak adil, cibiran yang tidak berhenti.
Padahal sesuatu yang berada di luar kendali bukan wilayah yang perlu kita kendalikan.
Kita tidak dilahirkan untuk membungkam setiap mulut,
tetapi untuk menguasai diri sendiri.
Karena itu, arahkan perhatian pada hal-hal yang dapat kita kendalikan:
-
tindakan kita,
-
sikap kita,
-
konsistensi kita untuk terus berkembang.
Teruslah melakukan yang terbaik, perbaiki yang kurang, dan tumbuh lebih kuat setiap hari.
Biarkan suara dari luar berlalu seperti angin di padang pasir; kafilah tetap berjalan, dan demikian pula hidup kita.
Ketulusan Itu Memiliki Frekuensinya Sendiri
Lakukan segalanya dengan tulus dari hati. Setiap manusia memancarkan frekuensi dari batinnya.
Ketidaktulusan bisa disembunyikan oleh kata dan sikap,
namun getarannya tidak pernah bisa dibungkam.
Pada akhirnya, hati yang jujur akan terasa lebih kuat daripada topeng mana pun.
Sebab manusia memang sering berjalan di balik topengnya sendiri:
topeng kebaikan, topeng loyalitas, topeng kepedulian.
Namun waktu adalah makhluk yang selalu jujur;
ia akan membuka semua yang disembunyikan.
Pelajaran dari Sengkuni dan Mereka yang Menjilat Kekuasaan
Sejarah memberi banyak contoh bahwa seseorang sering jatuh bukan karena musuhnya,
melainkan karena kepalsuan yang ia pelihara sendiri.
Sengkuni adalah bukti abadi bahwa ketidaktulusan, seindah apa pun dibungkus,
pada akhirnya akan hancur oleh dirinya sendiri.
Demikian juga mereka yang hidup dari menjilat kekuasaan.
Langkahnya mungkin tampak tinggi,
namun akhirnya terjerembab oleh ketidakmurnian niat.
Karena itu, jadilah manusia yang hatinya bersih.
Berbuat baiklah tanpa menagih balasan.
Bekerjalah tanpa mengharap tepuk tangan.
Semesta Tidak Pernah Salah Hitung
Dalam alam semesta yang tertib,
kebaikan selalu mencari jalan untuk kembali kepada pemiliknya.
Sebesar apa pun kebaikan yang engkau berikan,
sebesar itu pula ia akan kembali — dalam bentuk yang mungkin tak pernah kita duga.
Maka tetaplah berjalan dengan tenang.
Tetaplah bekerja dengan tulus.
Tetaplah menjadi diri sendiri yang terbaik.
Sebab proses tidak akan mengkhianati hasil,
dan waktu tidak akan mengkhianati orang yang jujur.
IH – Jakarta, 15 November 2025
0 komentar:
Post a Comment