Kenali Kotamu, Kenali Dirimu
Kenali kotamu, karena di sanalah tersimpan cerita tentang dirimu.
Setiap daerah memiliki sejarah, luka, perjuangan, dan kebijaksanaan yang membentuk cara masyarakatnya berpikir hingga hari ini. Ketika kita mengenal akar budaya dan sejarah leluhur tempat kita berasal, kita sebenarnya sedang menemukan bagian dari diri kita sendiri. Bukan karena kita pernah hidup di masa lalu, tetapi karena identitas, karakter, dan kepribadian kita merupakan hasil dari perjalanan panjang generasi-generasi yang datang sebelum kita, yang diwariskan dari waktu ke waktu hingga sampai kepada kita hari ini.
Di sebuah pulau di Kalimantan Selatan, terdapat sebuah desa bernama Sebelimbingan. Sebuah tempat yang menyimpan banyak cerita, mitos, dan misteri. Pulau ini dikenal dengan kisah-kisah tentang Halimun, Gunung Bamega, hingga legenda Kota Saranjana yang terus hidup dalam ingatan masyarakatnya.
Namun di balik berbagai cerita mistis itu, tersimpan sejarah nyata yang luar biasa.
Pada tahun 1903, pemerintah kolonial Belanda membangun kawasan pertambangan di Sebelimbingan. Kehadiran tambang tersebut menarik ribuan tenaga kerja dan mengubah Sebelimbingan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah Pulau Laut. Berbagai fasilitas modern dibangun, mulai dari rumah sakit, jalur kereta api, kawasan perdagangan, hingga permukiman pekerja. Pada masanya, Sebelimbingan menjadi salah satu kota terbesar dan paling maju di Pulau Laut.
Demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja, pekerja didatangkan dari berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa. Dari sinilah mulai tumbuh semangat kerja keras yang kemudian menjadi salah satu ciri masyarakat Sebelimbingan hingga sekarang.
Namun kejayaan itu tidak berlangsung selamanya. Memasuki dekade 1930-an, dampak krisis ekonomi dunia atau Great Depression memaksa banyak perusahaan tambang menghentikan operasinya. Aktivitas pertambangan menurun drastis, dan perlahan-lahan Sebelimbingan mulai kehilangan kemegahannya.
Cobaan terbesar datang pada tahun 1956. Berbagai catatan sejarah lokal menyebutkan adanya serangan kelompok yang pada masa itu dikenal masyarakat sebagai "gerombolan". Beberapa sejarawan mengaitkannya dengan kelompok DI/TII pimpinan Ibnu Hadjar yang saat itu terdesak oleh operasi militer pemerintah. Terputusnya jalur logistik membuat kondisi semakin sulit dan memicu berbagai tindakan penjarahan terhadap masyarakat.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Sebelimbingan. Kota yang pernah menjadi pusat kehidupan dan perekonomian itu luluh lantak. Terdapat berbagai versi mengenai siapa yang melakukan pembumihangusan kota, namun yang pasti, peristiwa tersebut mengubah perjalanan sejarah Sebelimbingan untuk selamanya.
Masyarakat terpaksa mengungsi ke kawasan pesisir dan membangun kehidupan baru. Dari perjuangan para penyintas inilah kemudian tumbuh kawasan yang berkembang menjadi Kota Kotabaru seperti yang kita kenal sekarang.
Beberapa tahun kemudian, sekitar 1958 hingga pertengahan 1960-an, pemerintah melaksanakan program transmigrasi ke Sebelimbingan. Ribuan keluarga dari berbagai daerah di Pulau Jawa datang membawa harapan baru. Mereka membawa bahasa, budaya, tradisi, dan nilai-nilai yang berbeda, lalu melebur menjadi satu komunitas yang harmonis.
Dari percampuran budaya inilah lahir masyarakat Sebelimbingan yang kita kenal hari ini: masyarakat yang gigih, pekerja keras, religius, sederhana, dan menjunjung tinggi persaudaraan. Nilai gotong royong masih terasa kuat, hubungan antarwarga begitu erat, dan kehidupan sosial yang harmonis membuat tingkat kriminalitas relatif rendah dibandingkan banyak daerah lainnya.
Sejarah Sebelimbingan mengajarkan satu hal penting: kemajuan tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari kemampuan untuk bangkit setelah kehilangan.
Nenek moyang kita pernah menghadapi masa kejayaan, mengalami masa kehancuran, lalu membangun kembali kehidupan dari titik nol. Mereka tidak menyerah pada keadaan. Mereka memilih untuk bertahan, bekerja keras, dan mewariskan semangat itu kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ketika kita merasa lelah menghadapi kehidupan, ingatlah bahwa darah para pejuang, perintis, dan pekerja keras mengalir dalam diri kita.
Kita adalah hasil dari perjuangan panjang mereka.
Dan tugas kita hari ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi melanjutkan perjuangan itu dengan menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, bekerja keras, serta memberi manfaat bagi sesama.
Kenali sejarahmu. Hargai akar budayamu. Karena ketika seseorang memahami dari mana ia berasal, ia akan lebih yakin menentukan ke mana ia akan melangkah.






