π Di Teras Tempat Wudhu & Toilet
Ramadhan kali ini rasanya beda.
Entah kenapa, tangan ini malas menulis.
Biasanya ada saja yang tertuang—di blog, di Facebook, atau sekadar di buku catatan pribadi.
Bukan karena sibuk.
Mungkin hanya karena hati sedang terasa datar. Biasa saja.
Sampai malam Sabtu kemarin, 7 Maret 2026.
π Sebuah Malam di Masjid Sabilal Muhtadin
Malam itu saya mengajak keluarga sholat tarawih di Masjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin.
Masjid yang luas, megah, dan selalu penuh setiap Ramadhan.
Orang datang dengan wajah cerah, dengan pakaian terbaik mereka.
✨ Pakaian wangi.
π¨π©π§ Datang bersama keluarga.
π£ Anak-anak berlarian kecil di pelataran dan lorong jalan masuk.
Ramadhan memang selalu punya suasana yang menenangkan.
Namun malam itu, ada satu pemandangan kecil yang justru membuat hati saya terusik.
π€² Seorang Ibu di Sudut Teras
Di teras tempat wudhu perempuan—tempat yang juga menjadi akses menuju toilet—
ada seorang ibu yang sedang sholat.
Beliau tidak berada di barisan makmum.
Tidak pula di saf paling belakang.
Beliau sholat sendiri.
Di sela-sela teras tempat wudhu & toilet.
Tempatnya agak tersembunyi.
Dibatasi dinding tempat wudhu.
Dari dalam masjid mungkin tidak ada yang melihatnya.
Di hadapannya, beberapa meter saja, ada plastik berisi jualan sederhana:
▪️ kerupuk opak
▪️ beberapa botol air mineral
Barangkali itu dagangannya.
⚖️ Jangan Cepat Menghakimi
Jangan tanya apakah sholat tarawihnya sah atau tidak.
Jangan tanya bagaimana hukum sholat di dekat toilet.
Dan apakah cukup hanya mengikuti imam dari pengeras suara tanpa melihat gerakan imam dan makmum yang lain.
Pada momen itu, jangan tanyakan hukum-hukum fikih.
Biarlah Allah yang menilai.
Yang lebih terasa justru satu pertanyaan yang mengguncang hati:
Seberapa berat pergumulan hati beliau malam itu?
π Antara Dunia dan Akhirat
Di satu sisi, beliau ingin sholat tarawih.
Ingin berdiri menghadap Allah persis di barisan makmum.
Ingin tenggelam dalam doa, seperti orang-orang yang datang ke masjid dengan ringan langkahnya.
Dengan baju bersih.
Dengan perut yang sudah terisi.
Dengan hati yang tenang.
Tetapi di sisi lain, ada kehidupan yang harus terus berjalan.
▪️ Ada keluarga yang harus dinafkahi.
▪️ Ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
▪️ Lebaran sudah di depan mata.
Dan mungkin anak-anaknya juga berharap sesuatu yang baru di hari raya.
Kerupuk opak dan air mineral itu mungkin bukan sekadar jualan kecil.
Mungkin itu satu-satunya harapan yang bisa diandalkan.
π€ Pilihan yang Tidak Mudah
Maka beliau berdiri di sana.
Tidak meninggalkan dagangannya.
Tapi juga tidak meninggalkan sholatnya.
Beliau memilih keduanya.
π Menjaga dunia yang harus diperjuangkan,
π€² dan tetap menggenggam akhirat yang ingin diraih.
Di antara teras tempat wudhu.
Di dekat toilet.
Di tempat yang mungkin tidak dianggap “sah” oleh banyak orang.
Namun beliau tetap sholat.
Dan entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa jauh lebih megah daripada kemegahan masjid yang berdiri di belakangnya.
Itu adalah semangat yang luar biasa.
❓ Lalu Saya Bertanya Pada Diri Sendiri
Lalu saya terdiam.
Dan bertanya pada diri sendiri:
Bagaimana dengan kita?
Kita yang punya waktu lapang.
Kita yang punya rezeki cukup.
Kita yang punya rumah nyaman dan keluarga lengkap.
Bahkan kita sering bingung memilih akan berbuka puasa di mana.
π½️ Rumah makan mana.
π Menu apa.
Karena hampir semua pilihan sudah pernah kita rasakan.
Sementara mungkin di sudut kota yang sama,
ada orang yang masih bingung malam ini akan berbuka dengan apa.
⚠️ Ironi Kehidupan
Dan ironisnya…
Seringkali kita yang berkelimpahan justru paling ringan untuk menghakimi.
Mengukur halal dan haram dari jauh.
Menilai ibadah orang lain dari tempat yang nyaman.
Padahal kita sendiri yang hidup berkecukupan saja…
kadang berat sekali melangkahkan kaki ke tempat sujud.
π Tarawih terasa panjang.
π Masjid terasa jauh.
π Doa terasa lama.
Kita lebih sibuk dengan:
π️ Jalan-jalan
π Belanja
✈️ Rencana liburan lebaran
Sementara seorang ibu di teras tempat wudhu itu masih berjuang menyeimbangkan iman dan kebutuhan hidupnya.
✨ Allah Karim
Allah Karim.
Maha Pemurah.
Mungkin di mata manusia, tempat sholat beliau tidak sempurna.
▪️ Barisannya tidak rapi.
▪️ Keadaannya tidak ideal.
Tetapi bisa jadi…
π di langit sana,
doanya justru lebih dulu sampai.
Dan malam itu saya sadar,
kadang Allah memperlihatkan sebuah pemandangan sederhana…
bukan untuk kita nilai,
tetapi untuk menggugah hati kita yang mulai lalai.
π€






