Mungkin kita baru benar-benar memahami arti pengorbanan orang tua ketika suatu hari kita menjadi orang tua.
Saat itulah kita mulai mengerti, bahwa menjadi ayah dan ibu bukan sekadar memiliki anak, tetapi tentang belajar mencintai seseorang dengan cara yang sering kali menyakitkan diri sendiri.
Ada begitu banyak hal yang dahulu tidak pernah kita pahami.
Tentang ayah yang berkata, “Ayah sudah kenyang,” padahal mungkin sejak pagi belum ada makanan yang masuk ke perutnya.
Tentang ibu yang tersenyum dan berkata, “Ibu tidak apa-apa,” sementara diam-diam ia menahan lelah, menahan sakit, bahkan menahan keinginannya sendiri agar kebutuhan anaknya lebih dahulu terpenuhi.
Itu bukan sekadar kata-kata bijak yang kita baca di media sosial.
Bukan pula sekadar kalimat motivasi yang indah untuk dibagikan.
Itu adalah kenyataan yang dijalani banyak orang tua dalam diam.
Mereka belajar mengurangi dirinya sendiri agar kita bisa memiliki lebih banyak.
Mereka menunda keinginannya agar keinginan kita bisa terwujud.
Mereka menahan lapar agar kita kenyang.
Menahan lelah agar kita bisa tidur dengan tenang.
Menahan sedih agar kita tumbuh dengan bahagia.
Dan yang paling menyakitkan, sering kali kita baru menyadari semua itu setelah kita sendiri merasakan beratnya menjadi orang tua.
Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang ayah mendapatkan uang untuk memenuhi permintaan anaknya?
Mungkin ia harus menelan malu.
Mungkin ia harus menundukkan kepala di hadapan orang lain.
Mungkin ia harus bekerja ketika tubuhnya sebenarnya sudah meminta berhenti.
Panas matahari menghitamkan kulitnya.
Telapak tangannya mengeras dan pecah-pecah.
Keringat mengalir dari dahinya.
Rambutnya perlahan memutih.
Wajah yang dahulu gagah, sedikit demi sedikit dipenuhi garis-garis usia.
Semua itu tidak terjadi dalam semalam.
Ada ribuan hari yang ia lewati dengan bekerja.
Ada ribuan malam yang ia lalui dengan memikirkan masa depan anak-anaknya.
Dan ada begitu banyak rasa sakit yang sengaja ia sembunyikan agar kita tidak ikut merasakannya.
Begitu pula seorang ibu.
Ia mungkin tidak pernah mengangkat beban seberat yang dipikul ayah, tetapi ia memikul beban yang tidak kalah beratnya: kekhawatiran.
Khawatir anaknya sakit.
Khawatir anaknya tidak makan.
Khawatir anaknya gagal.
Khawatir anaknya salah memilih jalan.
Bahkan ketika anaknya sudah dewasa, seorang ibu tetap menyimpan nama anaknya di dalam setiap doanya.
Kadang kita meminta sesuatu yang sebenarnya belum begitu penting.
Namun orang tua berusaha mewujudkannya seolah-olah itu adalah kebutuhan paling penting di dunia.
Kita meminta sepatu baru.
Mereka memikirkan bagaimana membayarnya.
Kita ingin sekolah.
Mereka memikirkan biaya pendidikannya.
Kita ingin hidup lebih baik.
Mereka rela bekerja lebih keras.
Kita melihat apa yang kita dapatkan.
Mereka merasakan apa yang harus mereka korbankan.
Ada orang tua yang bekerja hingga larut malam.
Ada yang mempertaruhkan keselamatan ketika bekerja.
Ada yang pulang dengan tubuh penuh debu dan keringat.
Ada yang pernah mengalami kecelakaan kerja.
Ada yang pernah diperlakukan tidak adil.
Ada yang dihina.
Ada yang diremehkan.
Ada yang bahkan pulang membawa luka yang tidak pernah mereka ceritakan kepada anak-anaknya.
Namun ketika sampai di rumah, mereka masih berusaha tersenyum.
Bukan karena hidup mereka mudah.
Tetapi karena mereka tidak ingin anak-anaknya melihat betapa beratnya hidup yang sedang mereka jalani.
Begitulah orang tua mencintai.
Sering kali tanpa suara.
Tanpa meminta tepuk tangan.
Tanpa meminta kita mengerti seluruh pengorbanannya.
Mereka hanya ingin melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik daripada dirinya.
Dan ironisnya...
Ketika mereka masih muda, kita terlalu kecil untuk memahami pengorbanan mereka.
Ketika kita mulai dewasa dan mulai memahaminya, mereka justru mulai menua.
Rambutnya memutih.
Langkahnya melambat.
Tangannya mulai gemetar.
Pendengarannya mulai berkurang.
Penglihatannya tidak lagi setajam dahulu.
Dan suatu hari nanti, mungkin kita akan duduk di tempat yang sama...
Melihat kursi yang biasanya mereka duduki,
tetapi kursi itu sudah kosong.
Saat itulah mungkin kita akan bertanya kepada diri sendiri:
“Mengapa dahulu aku begitu sibuk mengejar banyak hal, sampai lupa bahwa ada dua orang yang hanya ingin melihatku pulang?”
“Mengapa dahulu aku begitu mudah meminta, tetapi begitu sulit memberi?”
“Mengapa dahulu aku menganggap perhatian mereka sebagai sesuatu yang biasa?”
Dan pertanyaan yang paling menyakitkan:
Apa yang sudah kita berikan kepada mereka, setelah begitu banyak yang mereka berikan kepada kita?
Apakah hanya uang?
Apakah hanya hadiah?
Tidak.
Barangkali yang paling mereka inginkan bukanlah sesuatu yang mahal.
Mereka hanya ingin kita datang.
Duduk di samping mereka.
Mendengarkan cerita mereka.
Menanyakan kabarnya.
Memeluknya.
Dan berkata:
“Ayah... Ibu... terima kasih.”
Sebab ketika kita masih memiliki mereka, jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Jangan tunggu rumah menjadi sunyi untuk merindukan suara mereka.
Jangan tunggu tangan mereka tidak lagi mampu menggenggam kita untuk menyadari betapa lama tangan itu telah menjaga kita.
Dan jangan tunggu doa mereka berhenti di dunia...
untuk menyadari bahwa selama ini,
mungkin kita hidup bukan hanya karena perjuangan kita sendiri, tetapi karena ada dua orang yang diam-diam menghabiskan hidupnya agar hidup kita menjadi lebih baik.
Ayah dan Ibu tidak selamanya ada.
Maka selagi mereka masih bisa kita temui,
pulanglah.
Duduklah di hadapan mereka.
Cium tangannya.
Peluk mereka lebih lama.
Dan jika hari ini masih ada kesempatan,
katakanlah:
“Maaf karena selama ini aku lebih sering menuntut daripada memahami.
Maaf karena aku terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa ada Ayah dan Ibu yang semakin tua.
Terima kasih untuk semua lelah yang tidak pernah kalian ceritakan.
Terima kasih untuk semua air mata yang kalian sembunyikan.
Terima kasih karena telah mengorbankan begitu banyak hal agar aku bisa menjadi seperti sekarang.”
Karena kelak, ketika mereka sudah tiada, kita mungkin memiliki banyak uang, banyak pencapaian, banyak teman, dan banyak hal yang bisa dibeli...
tetapi tidak akan pernah ada uang yang cukup untuk membeli kembali satu menit saja bersama mereka.